Eko Agus Prawoto
Seniman dan arsitektur kelahiran Yogyakarta, 1959 ini menamatkan studinya di Jurusan Teknik Arsitektur, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tahun 1982 dan S2 (Master of Architecture) di Berlage Institute, Belanda tahun 1993.
Ciri khusus rancanganya adalah menerapkan aliran desain ekologis (eco design), baik dari segi penataan ruang, struktur, dan elemen dekorasi. Sebisa mungkin karyanya selaras dengan lingkungan tanpa mengurangi keunikan bangunan tersebut.
Dengan gaya tektonikanya (proses pembuatannya menyertakan ide-ide puitis yang diasosiasikan dengan mesin, alat, teknologi, dan pembuatan-pembuatan hal, dan pembentukan material) yang khas, pendiri Eko Prawoto Architecture Workshop itu telah memunculkan suatu tipologi bagi karya-karyanya, khususnyarumah-rumah seniman. Konfigurasi ruang dibagi menjadi ruang privat sebagai tempat para seniman menggali ide dan berkarya, serta public space sebagai tempat para seniman memamerkan karya-karyanya.
Strukturnya banyak menggunakan bahan alami, seperti kayu, bambu, batu alam, serta bahan daur ulang, seperti batu bata bekas, pecahan keramik, hingga pintu dan kusen bekas. Eko Prawoto juga merancang jenis-jenis sambungan yang khas, seperti detil sambungan antara kayu dan batu alam, detil sambungan kayu dengan perbedaan bentuk penampang.
Karya-karyanya antara lain Gereja Kristen Indonesia Sokaraja (1994-1995), Mella jaarsma & Nindityo House, Yogyakarta (1995), Cemeti Art House Yogyakarta (1997-1999), Butet Kartaredjasa House, Yogyakarta (2001-2002), House for Ning, Yogyakarta (2002), House for Jeanie & Lantip (2003-3004), Kafe d’Jendelo & Rumah Djaduk Ferianto, Yogyakarta; Art of Bamboo, Viavia CafĂ©, Langgeng Art Gallery (2010) di Magelang; Cafe and Gallery for Unesco di Magelang; dan Talaga Sampireun Ancol di Jakarta.


0 Komentar